oleh

Erna Rasyid Taufan, Potret Kartini Masa Kini

PAREPARE- Meski telah wafat, Raden Adjeng Kartini hingga kini masih tetap menginspirasi para perempuan moderen. 

Sosoknya yang gigih memperjuangkan emansipasi perempuan pada masanya (1879-1904) menjadi kiblat emansipasi evolusioner bagi banyak perempuan di Indoneisa dan dunia barat (Eropa), termasuk di Kota kelahiran Presiden ke-3 RI, Prof BJ Habibie. 

Perempuan yang telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional ini pun menjadi panutan dan inspirasi dalam gerakan kebebasan dan kepedulian sosial bagi perempuan Parepare, termasuk bagi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Parepare, Hj Erna Rasyid Taufan.

Bahkan, sosok srikandi ini wajar jika dijadikan sebagai potret kepribadian Raden Adjeng Kartini masa kini. 

Dikenal sebagai sosok yang ramah dan bermasyarakat, Istri Wali Kota Parepare Taufan Pawe ini mewakafkan dirinya dalam dunia dakwah meski di tengah padatnya aktivitas sebagai istri orang nomor satu di Kota Parepare. 

Giat berdakwa tak hanya lintas lokal, tetapi ke daerah tetangga, hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Singapura, dan beberapa negara lainnya.

Kemiripan karakter antara kedua srikandi ini pun terlihat jelas, ketika Erna Rasyid Taufan menyiarkan Islam di Negara yang dijuluki Negeri Gajah Putih, Thailand beberapa tahun lalu. 

Di tengah ribuan mahasiswa di Kampus Pesantren Ma’had Al-Ba’zad Addinyah Kota Yala, Thailand Selatan, manakala, Erna Taufan dan para rombongannya diintai puluhan bala tentara dan helikopter yang berputar-putar di atas kepala yang seakan-akan siap menerkam mangsanya.

Kendati demikian, hal tersebut justru tak membuat nyali Erna ciut, meskipun rektor universitas tersebut, Dr. Abdul Rasyid Abdullah juga sudah mulai tegang dan khawatir akan keselamatan tamunya.

“Suasana sudah mulai mencekam, rombongan saya terlihat tegang, namun senjata saya surah Al-Imran, Allah berfirman jika kamu sudah bertekad hendaklah engkau bertawakkal kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang tawakkal,” cerita Ustadzah yang juga Ketua Forum Kajian Cinta Alqur’an Parepare ini.

Kala itu, selain mendapat pengawalan ketat dari bala tentara yang tidak diundang tersebut, Erna mengaku disorot jurnalis TV Thailand dari jarak kejauhan. “Rektornya bilang bukan dia yang mengundang dan sebelum ceramah kami sempat dicegah rombongan yang mengingatkan situasi yang mencekam seperti ini,” lanjut Erna.

Berpegang pada surah Al-Imrah kata Erna, wanita yang pernah berprofesi sebagai Broadcaster ini justru makin menghidupkan suasana interaksi dengan ribuan mahasiswa itu.

“Saya hanya takut kepada Allah, saya berjuang di jalan Allah jadi kenapa harus takut. 15 menit saya di podium lalu saya turun di tengah-tengah santri, suasananya makin hidup dan interaktif dengan metode sambung ayat,” tutur Ketua BKMT Kota Parepare ini.

Menelisik sejarah RA Kartini, pahlawan nasional ini pun pernah melakukan hal yang sama. Di tengah gempuran Belanda dan larangan menerjemahkan Al-qur’an, perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini justru meminta kepada seorang ulama untuk menerjemahkan surah Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa.

“Bahkan buku dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang karena kekaguman beliau dalam salah satu ayat di surah Al-Baqorah mina dhulumati ilan nur. Dari kegelapan ke cahaya,” imbuh Erna.

Tak hanya Kartini yang mendakwahkan ayat tersebut melalui tulisannya, Erna pun berhasil menulis sebuah buku dengan ketebalan 336 halaman. 

Di dalam buku tersebut, dia mengungkap rahasia tersembunyi di usia 40 tahun. Karya tulisnya ini mendapat apresiasi dari Presiden ketiga RI, mendiang Prof. BJ Habibie. 

BJ Habibie menilai Erna Taufan sebagai pendakwah yang konsisten menyebar syiar Islam, tak hanya lewat lisan, tetapi lewat tulisan dan bahkan busana yang dia kenakan.

Dalam buku tersebut, Erna mengulas rahasia usia 40 tahun sebagai usia untuk meningkatkan kesadaran spiritual untuk persiapan pemberhentian terakhir ketika ketetapan Allah telah berlaku.

Meski tak berlatar pendidikan sebagai seorang pendakwah atau dilahirkan dari keluarga ulama, namun berkat kemauan dan hobbynya memberikan pencerahan kepada orang lain, menuntun Erna menggapai potensi yang terpendam dalam kepribadiannya sebagai seorang da’iah. 

Menyiarkan syariat Islam kata dia, bukan hanya melalui tuturan lisan semata, tetapi juga melalui tingkah laku, salah satunya dengan busana. Pun ia kerap menulis dengan tujuan menyebarluaskan Islam melalui tulisan yang menarik dan mudah dicerna.

Tak cukup di situ kisah inspiratif yang terpotret dari kesehariannya, Erna juga konsisten dalam berpenampilan. Busana kata dia adalah syiar, untuk mendorong orang lain tertarik mengenakan pakaian yang sama. Busana agamis, santun nan elegant menjadi daya tarik, karena kata Erna dengan berpenampilan yang baik dapat mengantisipasi niat dan perbuatan yang buruk.

“Dari segi busana saja kita tetap bisa berdakwah tanpa kata. Seorang muslimah yang bisa tampil dengan baik dan benar akan diikuti oleh muslimah lainnya. In Sya Allah,” kata mahasiswa Doktoral Universitas Muhammadiyah Parepare ini.

“Beliau (Kartini, red.) adalah sosok inspirasi yang religius. Tanpa mengenyampingkan tokoh-tokoh wanita yang lainnya, semisal Cut Nyak Dien dan Dewi Satria. Beliau-beliau adalah perempuan-perempuan yang hebat pada zamannya,” tulis Erna yang juga mengulas tentang karakter religiutas yang dimiliki Kartini saat meminta ulama menerjemahkan surah Al-fatihah ke dalam Bahasa Jawa.

Tak hanya sosok religius Kartini yang menjadi inspirasinya, ia pun terinspirasi dengan kegigihannya dalam memperjuangkan emansipasi perempuan. Ini pula yang mendorongnya sehingga anak pertama dari 12 bersaudara ini dikenal sebagai istri walikota segudang prestasi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed