oleh

Esai; Kenangan Singkat Bersama Riedl dan PSM

Kabar duka beredar di pelbagai fanpage sepakbola tanah air malam ini (08/09/20). Mantan pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl berpulang pada usia 70 tahun.

Kita di Sulsel, punya hubungan lumayan spesial dengan pelatih yang dikenal kalem ini. PSM Makassar adalah satu-satunya klub Indonesia yang pernah ia latih, meski hanya kurang dari 3 bulan.

Makanya ingatan saya tentang pria Austria ini tidak begitu banyak. Penunjukannya sebagai pelatih PSM hampir bersamaan dengan ditugaskannya saya di desk PSM saat meniti karir jurnalis di FAJAR. Karena itu saya berkesempatan interview beberapa kali dengannya.

Seingatku ia pelatih yang tidak pelit ke wartawan. Selepas sesi latihan pagi di Karebosi, ia selalu bersedia meladeni saat kami mencegat untuk wawancara. Bahkan beliau juga bersedia diganggu via BBM yang top saat itu. Modal pas-pasan berbahasa Inggris sungguh sangat membantu.

Selama beberapa kali perjumpaan itu, air mukanya selalu datar. Hal yang sama sering disaksikan lewat TV, baik saat menukangi Timnas Indonesia atau saat melatih PSM. Seheboh apapun gol yang dicetak, ekspresinya selalu sama. Konon dibalik sikapnya yang pelit senyum, ada kisah tersendiri yang membuat terenyuh. Benar tidaknya hanya dia yang tau.

Di Timnas Indonesia, ia juga menjadi pelatih yang dicintai suporter. Pada Piala AFF 2010, Riedl sukses mengantar Indonesia hingga final. Hasil itu juga mengangkat kembali euforia kecintaan pada Timnas, setelah beberapa lama meredup.

Sementara di PSM, meski hanya beberapa bulan, polesannya menghasilkan skuat yang tangguh. Tak terkalahkan dalam 3 pertandingan pertama. Paling tidak sebelum QNB League disetop. Riedl-lah yang mendatangkan striker plontos Nemanja Vucicevic dan playmaker Nenad Begovic, pemain asing yang jadi kunci performa Juku Eja.

Sayang ia harus kembali ke negara asalnya. Kondisi kesehatannya menurun. Setelah beberapa pekan tanpa kabar, sebuah pesan masuk di email saya. Riedl mengirim surat elektronik mengabarkan kondisi dan pengunduran dirinya. Surat itu diketik rapi, berbahasa Inggris, padat dalam beberapa paragraf, lengkap dengan alamatnya, dikirim dari Wina, Austria.

Kini, ia telah benar-benar pergi. Namun ia berhasil meninggalkan catatan tersendiri di hati para suporter, termasuk para jurnalis. Pecinta bola tanah air bahkan menyapanya dengan cukup mesra, Opa Riedl.

Selamat jalan,…

M Haris Syah (jurnalis desk PSM 2014-2015)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed