oleh

2017, Terdakwa Culik Korban Ke Papua Kembali Ternyata Di Bunuh, Polisi Tak Gubris Laporan Orangtau Korban


PAREPARE, SULAPA. COM – Sidang perdana kasus pembunuhan terhadap korban Selvi (17) oleh suaminya sendiri Yudding (59) dihadiri dua saksi dibawah umur yang melihat langsung korban di gorok lehernya. Peristiwa naas ini menjadi sorotan publik awak media yang meliput di pengadilan negeri Parepare diruang sidang utama cakra, Senin (10/01/22).

Jaksa penuntut umum di pimpin langsung kasi pidum, Andi Noviati didampingi oleh Teguh sukumu selaku kasi barang bukti membacakan dakwaanya di hadapan ketua majelis hakim Andrik Dewantara menuturkan bahwa pada pada hari selasa tanggal 09 November 2021 terdakwa (Yudding alias Uidn bim Azis) bersama korban (Selvi) keduanya adalah suami istri, keduanya bertengkar, karena terdakwa menerima informasi kalau istri terdakwa sering melakukan video call dengan lelaki lain sehingga terdakwa merasa cemburu kepada istri terdakwa yaitu korban Selvi.

Lalu Tegu membaca dakwaanya, pada hari Rabu tanggal 10 November 2021 sekitar pukul 07;00 wita terdakwa berangkat kerumah mertua terdakwa di jalan Kijang kelurahan Labukkang Kecamatan ujung kota Parepare, pada saat terdakwa berada di rumah mertua, terdakwa bertemu dengan korban dan terdakwa sempat memijat korban menggunakan kedua tangan terdakwa.

Kemudian terdakwa meminta izin kepada mertua terdakwa untuk membeli tehel, selanjutnya pada pukul 16;00 wita korban Selvi bersama Aslam mengantar terdakwa ke rumah istri kedua terdakwa bernama Farida setelah sampai di rumah istri kedua terdakwa maka terdakwa mandi, lalu pada pukul 17:00 wita terdakwa mengambil badik menggunakan tangan kanan dan menyimpangnya dipinggang sebelah kiri terdakwa kemudian terdakwa pergi menuju pasar senggol untuk mencari istrinya dan selanjutnya sekitar pukul 18;40 wita terdakwa bertemu dengan istrinya lalu terdakwa naik motor yang dikemudi oleh korban Selvi kemudian pergi mencari adiknya bernama Randy Pangadila dan Nur Aini.

Tegu lanjut membacakan bahwa selanjutnya sekitar pukul 19;00 wita terdakwa bersama korban Selvi, bersama Randy dan Nuraini bebroncengan empat untuk pulang kerumah korban, sepanjang perjalanan korban selalu memarahi terdakwa diatas motor karena terdakwa selalu mencari korban hingga akhirnya pada saat melewati jalan ketilang (lorong tembo lopie) kelurahan Ujung Baru Kecamatan Soreang kota Parepare, terdakwa diminta turun oleh korban lalu terdakwa turun dari motor yang diikuti oleh Randy dan Nura Aini, sehingga terdakwa berdiri disebelah kanan korban, kemudian terdakwa bertanya kepada korban “kenapa kpk begitu, barusanki begini,”kata Terdakwa lalu korban menjawab pertanyaan terdakwa “mau-mauku, pacarku sendiri, sudah ka main”kata korban Selvi, mendengar jawaban dari korban Selvi membuat terdakwa marah dan hilang kendali sehingga terdakwa langsung mengambil badik yang diselipkan di pinggang sebelah kiri terdakwa menggunakan tangan kanan terdakwa, lalu terdakwa menggorok leher korban sebanyak satu kali menggunakan tangan kanan terdakwa dan tangan kiri terdakwa memegang kepala korban yang pada saat itu masih menggunakan helm, kemudian terdakwa menusuk perut dan punggung korban berkali-kali hingga korban terjatuh dari sepeda motor, Lalu terdakwa pergi menggunakan sepeda motor.

Bahwa akibat perbuatan terdakwa, yang telah menghabisi nyawa korban perempuan Selvi Saputri yang merupakan istri ketiganya yang masih berusia 17 tahun, atas perbuatan terdakwa maka terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatanya di meja hijau, dimana diancam pidana pasal 340 KUHPidana dan pasal 338 KUHPidana serta pasal 80 ayat (3) jo. Pasal 76c UU RI no. 35 tahun 2014 dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Setelah jaksa penuntut umum membacakan dakwaanya, maka majelis hakim melanjutkan persidangan dengan menghadirkan para saksi, yaitu Sulfiah adalah saudara kandung korban, Suriyani adalah ibu kandung korban, Randy adik kandung korban dan Nura Ini adik kandung korban.

Dalam kesaksian ibu korban, Suriyani bahwa memang pernah diancam oleh terdakwa mau dibunuh, saat korban sampaikan kepada saksi, namun saksi tidak mengubrisnya hanya mengatakan bahwa “tifak mungkin, itu hanya main-main”kata saksi saat memberikan kesaksianya.

Lanjut Saksi Suairyani bahwa sebelum kejadian, korban bersama tidak menikah secara sah melalui KU tapi keduanya menikah dibawah tangan, dimana saat itu, saksi menceritakan bahwa terdakwa ini menculik korban saat pergi sekolah pada tahun 2017 korban masih usinya 12 tahu atau masih SD, terdakwa membawa lari hingga ke Papua.

Saksi sudah melaporkan hal ini pada tahun 2017 kepada polsek Ujung mengenai anaknya hilang, tapi pihak Polsek Ujung tidak meresponya hingga terdakwa kembali tahun 2021 dan kini sudah di karunia anak yang usianya 3 tahun.”memang saya tidak merestuanya, tapi karena ada anak saya tetap menerimanya, anak saya ini diculik oleh terdakwa tahun 2017 lalu saya sudah lapor ke polisi tapi tidak di tanggapi, maka kami keluarga diam mungkin karena kami orang miskin,”kata Suriyani di hadapan majelis hakim.

Saksi mengakui tidak pernah ada pertengkaran selama ini, sehingga kaget ada kejadian seperti ini, “selvi anak ke enam dari 10 bersaudara,”kata ibu korban.

Hal senada dikatakan kakak Korban Sulfiah bahwa tidak pernah ada cekcok antara keduanya, tapi saksi juga tidak tau apa masalahnya sehingga tefah membunuh istrinya sendiri.

Sementara saksi Randy dan Nuraini adalah saksi dibawah umur maka majelis hakim menyampaikan kepada para pengacara terdakwa dan jaksa penuntut umum agar pakain toga dilepas karena yang di ambil keteranganya adalah di bawah umur.
Kedua saksi anak ini yang melihat langsung kejadian dan peristiwa atas pembunuhan ini, namun tidak melihat secara jelas karena lorong tersebut tempat kejadian gelap, setelah tersimpuh atau jatuh dengan berumuran darah maka kedua anak ini atau sauadara kandung korban langsung menelpon ibunya bahwa selvi dibunuh oleh suaminya, sedangkan suaminya sudah lari dengan naik motor milik selvi.

Sementara keterangan terdakwa mengakui atas perbuatanya, terdakwa membunuh istrinya karena siri saat mendegar jawaban istrinya kalau istrinya punya lelaki lain dan sudha pernah main berdua, namun pernyataan itu tidak bisa dibuktikan oleh terdakwa hanya pernyataan korban saat emosi waktu bertengkar, padahal lelaki yang di maksud korban juga tidak pernah melihatkanya.

Agenda selanjutnya Senin depan tanggal 17 januari 2022 adalah penuntutan oleh jaksa penuntut umum, pengacara dari posbakum yang mendamping terdakwa siapkan pledoi tertulis jika setelah tuntutan dibacakan jaksa penuntut umum pekan depan. (smr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed