Adopsi Sistem Pendidikan Ponpes Gontor, Istana Tahfidzul Qur’an 01 PCNU Inisiatif Buka kursus 2 Bahasa

PAREPARE,  SULAPA. COM – Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Kedua bahasa ini tidak asing lagi bagi seorang santri.

Pembina Pondok Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an 01 PCNU berinisiatif membuka kursus Bahasa Arab dan Inggris dengan harapan santri disamping menghafal Al-qur’an juga memiliki kemampuan berbahasa asing. Hal tersebut dikemukakan Ust. Shodiq melalui WaG Sabtu (27/07/2019).

Menurutnya, Dengan kemampuan penguasaan dua bahasa  seorang santri apalagi dia hafidz maka memiliki masa depan yang gemilang.

“Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta memberikan beasiswa kepada mahasiswa hafidz maupun hafidzah untuk melanjutkan di perguruan tinggi secara gratis mulai semester pertama sampai semester terakhir.” Jelas Shodiq.

Ia Melanjutkan, pendidikan ke perguruan tinggi dengan kemampuan dua bahasa sangat menunjang. Apalagi rujukan buku-buku yang akan digunakan di perguruan tinggi umumnya menggunakan dua bahasa tersebut.

“Peluang ini oleh Pembina Pondok Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an sengaja dipersiapkan bagi santri agar para santri ketika melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tidak memiliki kendala bahasa.”. Lanjutnya.

Kelas yang dibuka di Ponpes Istana Tahfidzul Qur’an masih kelas percakapan (conversation) ini diutamakan agar mereka memiliki keberanin untuk mempraktekkan bahasa baik arab maupun inggris. Banyak orang menguasai grammar atau nahwu shorf tidak mampu berkomunikasi dalam dua bahasa tersebut. Belajar bahasa itu kemampuan dan keberanian mengungkapkan apa yang diinginkan. Selama tidak diungkapkan segudang ilmu bahasa dimiliki pasti kita tak mampu berkimunikasi.

Ia mencontohkan bagaimana pembinaan di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur yang mewajibkan santrinya 6 bulan setelah mondok, santri wajib menguasai bahasa arab dan Inggris.

Kalau santri tidak melakukan itu maka dia kena sanksi jelasnya. Hal ini berdasarkan Pengalamannya sebagai alumni PM Darussalam Gontor merasakan kewajiban itu.

“Bahkan saya sempat terbata-bata bahasa Bugis karena tidak pernah lagi berkomunikasi dengan bahasa daerah meskipun santri diajak berkomunikasi dari daerah yang sama.” Kenangnya sewaktu masih mondok di gontor.

Inilah rencana pembina Pondok Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an mengadopsi apa yang telah diterapkan di Pondok Modern Gontor. Apalagi ada beberapa dosen IAIN Parepare alumni Pondok Modern Gontor bahkan anak-anaknya jadi santri Gontor.

Tinggalkan Balasan