Opini : Idul Kurban, Apa yang Dikorbankan ?

Idul Adha biasa juga disebut idul kurban, apa anda korbankan ? Idul Adha sirah atau perjalanan spritual yang dilakoni Nabi Ibrahim AS dengan anaknya Ismail. Kalau direnungi merupakan pembelajaran bagi generasi yang akan datang. Pengorbanan bukan sekedar dalam tataran theoritis tapi harus implementatif dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang hanya mampu berteori tapi mengamalkan apa yang diucapkan terkadang berat.

Nabi Ibrahim AS dalam penantiannya menginginkan seorang anak namun tidak semulus yang ia bayangkan. Akhirnya ia nikahi seorang wanita namanya Siti Hajar atas restu istrinya pertama Siti Sarah. Saat Siti Hajar mengandung Ismail Siti Sarah perasaan cemburunya belum muncul, ketika Siti Hajar melahirkan dia perintahkan suaminya Nabi Ibrahim untuk membawa istrinya Siti Hajar beserta anaknya ke tempat yang jauh hingga suara tangisannya tidak terdengar lagi. Anak yang lahir dari kandungan Siti Hajar diberi nama Ismail dari Bahasa Ibrani ISMA mendengar & IL artinya Tuhan artinya Tuhan menerima doa Nabi Ibrahim. Setelah doa Nabi Ibrahim dikabulkan diuji lagi dengan kecemburuan Siti Sarah terhadap suara sang bayi Ismail. Inilah pengorbanan berat seorang Nabi Ibrahim AS anak yang dinanti justru istrinya Siti Sarah tidak nyaman dengan tangisan anaknya Siti Hajar.

Sebagai seorang kepala rumah tangga Nabi Ibrahim AS memahami kondisi istrinya yang pertama yang juga mengharapkan seorang anak. Ketika Malaikat Jibril berwujud manusia menyampaikan kepada Siti Sarah bahwa ia akan melahirkan seorang anak maka ia merasa senang dan bahagia. Anak yang lahir dari kandungan Sarah diberi nama ISHAQ dalam Bahasa Ibrani artinya senang, gembira dan bahagia.

Saat Ibrahim meletakkan anaknya di padang yang tandus bersama istrinya, dia diperintahkan oleh Allah untuk kembali ke Palestina. Perjalanan Nabi Ibrahim cukup melelahkan namun tidak membuatnya kendor dalam berdakwah. Saat Nabi Ibrahim mau meninggalkan anaknya Ismail dia menengadah ke langit memohon doa dan itu diabadikan di dalam Al-Qur’an ” Ya Rab anak keturunanku saya titip di tempat yang tandus pada rumahMu yang suci, dan jadikanlah keturunanku mendirikan sholat dan jadikanlah hati manusia cenderung ke sana ( Surah Ibrahim 37 ).

3000 tahun doa Nabi Ibrahim AS baru dikabulkan oleh Allah. Apa yang kita lihat sekarang ini kondisi Kota Mekkah semakin hari semakin banyak dikunjungi. Tidak lepas dari pada doa Nabi Ibrahim AS yang tidak pernah berputus asa dari Rahmat Allah. Bertubi-tubi ujian yang diujikan oleh Allah kepadanya tidak membuatnya layu dan loyo. Semakin tinggi keimanan seseorang semakin besar ujian harus siap dihadapi. Dunia ini darul bala tempat ujian. Dunia boleh juga dikatakan kawah chandradimuka atau penggodokan persiapan menuju ke Alam Keabadian.

Banyak orang larut dalam kehidupan keduniaan seakan-akan mengekalkannya, padahal dunia hanya bersifat sementara (temperory time). Namun tidak sedikit diantara kita terjerumus dengan kehidupan hedonis berlebih-lebihan dan berfoya-foya tanpa mereka sadari larut dalam fatomorgananya dunia.

Pergorbanan Nabi Ibrahim AS menghilangkan ego kepemilikan terhadap anaknya Ismail tiba-tiba bermimpi menyembelih anaknya. Pengorbanan seorang ayah kalau ukuran manusia sekarang it’s impossible (tidak mungkin) bisa dilakukan. Karena keyakinan seorang Nabi Ibrahim bahwa ini perintah Allah SWT langsung dia sampaikan kepada anaknya. Pemuda Ismail seorang anak sholeh tanpa ragu-ragu menjawab silahkan laksanakan apa yang diperintakan oleh Allah. Pertemuan seorang ayah yang taat dengan anak yang sholeh. Kita berharap pengorbanan seorang Nabi Ibrahim menjadi cerminan bagi generasi yang akan datang untuk tidak cepat berputus asa ketika mendapat ujian.

Penulis : S. Asli Umar

Parepare, Ahad 10 Dzulhijjah 1440 H / 11 Agustus 2019

Tinggalkan Balasan