
Kata “santri” berasal dari lima huruf arab. Lima huruf arab tersebut didefinisikan oleh KH Hasyim saat memberikan mauidhoh dalam Haflah Akhiris Sanah dan Harlah Az Zahra XI berlangsung di halaman pesantren Az-Zahra Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara.
Santri berasal dari huruf sin, salik fil ibadah. Menurut kiai yang berasal dari Desa Wonorejo itu artinya jalur beribadahnya harus lurus. Dalam hal ini ia menekankan orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Sebab ia sangat prihatin dengan kondisi anak zaman sekarang yang susah diatur sehingga ibadah yang tekun harus diperkuat.
Kedua, na’ibun anis syuyukh. Santri, kata dia, harus mulai menata hati dan bercita-cita untuk meneruskan perjuangan para sesepuh. Santri harus menjadikan waktu adalah ilmu sehingga tidak ada waktu yang tersisa kecuali untuk menuntut ilmu.
Setelah nun, huruf ketiga ialah ta’. Ta’ibun anid dzunub. “Tobat dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan,” lanjut Hasyim.
Raghibun fil khairat. Senang dengan hal-hal yang positif. “Jika ada kesempatan untuk mengaji luangkan waktu untuk mengikutinya.”
Yang terakhir, yakin ala man an’amallahu ma’ah. Menjadi santri, tegas dia, harus yakin jika Allah sudah memberikan jatah rizki tetapi wajib dibarengi dengan usaha.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adslah orang yang menuntut ilmu agama. Ada juga mengatakan bahwa kata santri itu berasal dari Bahasa Jawa, yakni : Cantrik artinya seseorang yang selalu mengikuti gurunya ke mana pun pergi.
Santri dapat disimpulkan bahwa seseorang yang menuntut ilmu agama dan tinggal di pondok pesantren. Menuntut ilmu itu suatu hal yang wajib apalagi ilmu agama sebagaimana Firman Allah :
۞ وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. ( At-Taubah 122 ).
Dalam perjalanan perjuangan Bangsa Indonesia kaum santri ikut berjuang. Ini menunjukkan bahwa peran santri tidak boleh diremehkan. Nama yang tercantum di buku sejarah kita dapat menemukan tokoh-tokoh pergerakan adalah seorang santri di antaranya : HOS Cokroaminoto, KH.Hasyim Asy’ari, KH.Ahmad Dahlan, KH.Agussalim, KH.Wahid Hasyim.
Pesantren sangat berperan mencerdaskan anak-anak bangsa dan ini bisa dilihat banyaknya tokoh-tokoh baik tingkat lokal maupun nasional dari kalangan santri. Kehidupan mereka sehari-hari dididik dan digembleng dengan berbagai macam kegiatan. Dengan harapan para santri setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok tidak kaku menghadapi kegiatan kemasyarakatan karena sudah terlatih.
Pesantren laksana kawah candradimuka tempat penggodokan dan wahana pembentukan karakter. Para santri terbiasa dengan disiplin, kehidupan santri tertata dengan proses belajar mengajar dan kegiatan di luar sekolah seperi pramuka, olah raga dan organisasi intra pesantren.
Cara santri berpenampilan sangat sederhana tetapi tetap rapi dan bersih. Libur mingguan santri pada hari Jum’at, waktu luang inilah biasa digunakan santri untk mencuci pakaian dan membersihkan lingkungan sekitar. Istilah Jum’at Bersih bagi kalangan santri tidak asing lagi, Itu sudah menjadi kewajiban.
Waktu makan santri sangat terbatas sehingga mereka bersegera ke dapur pada saat jam makan. Antri pada jam makan itu sudah biasa berdiri sambil memegang piring dan sendok. Bagi santri yang makan di dapur keluarga biasanya tidak antri karena jumlahnya agak tetbatas berbeda kalau di dapur umum.
Saat makan malam setelah yasinan bersama. santri penghafal Qur’an di Pondok Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an 01 PCNU Parepare Soreang. Terkenang sewaktu masih jadi santri di Pondok Modern Gontor 26 tahun yang lalu. Banyak kenangan terkadang susah untuk dilupakan karena selama 24 jam kegiatan santri diatur oleh pondok. Mulai dari bangun subuh sampai tertidur di malam hari semua sudah diatur oleh pondok. Tidak sedikit santri keluar dari pondok sebelum menyelesaikan pendidikannya, karena tidak mampu mengikuti irama pondok serba tetatur. Kalau di Pondok Modern Darussalam Gontor kegiatan pondok diatur dengan lonceng dalam Bahasa Arab disebut al-jaras.
Sebenarnya masih banyak hal tentang kehidupan santri di pondok pesantren yang belum sempat diungkapkan oleh penulis. Bagi yang ingin mengeahuii prihal kehidupan di pondok pesantren itu dapat dibaca ” Negeri Lima Menara” penulisnya Anwar Fuadi senior penulis di PM Darussalam Gontor. Sewaktu penulis menuntut ilmu di PM Gontor belum memiliki cabang yang dikelola langsung oleh pondok. Sekarang menurut hemat penulis sekitar 13 tersebar di berbagai daerah. Kalau pondok pesantren yang dilelola oleh alumni Gontor mungkin sudah ratusan. Salah satu cita-cita Trimurti ( KH.Ahmad Sahal, KH.Ahmad Fanani dan KH.Imam Zarkasyi ) membangun 1000 Gontor.
Parepare, 06 September 2019
Oleh : S. Asli Umar






